16 Saudara

            Bagaimana jika kau mempunyai saudara yang banyak? Bukan hanya 3, 4 atau bahkan 5. Keistimewaan orang tuaku yaitu memiliki banyak anak yaitu 16, tapi menurutku bukan hanya itu keistimewaan kami, kami memiliki segudang keunikan, kebersamaan, kebahagian, kekompakkan dan lain-lain yang tak bisa ku jelaskan nah.. itu yang membuat kami lebih istimewa.

            Namaku Naya anak ke-10 dari 16 bersaudara dari pasangan suami istri pak Jumah dan ibu Nurul dan umurku sekarang 12 tahun. Kakak paling tuaku bernama Rido umurnya 27 tahun, sampai sekarang dia belum menikah dan belum memiliki pekerjaan. nah Kakak ke-2 ku yaitu Syifa umurnya 25 tahun sudah menikah dan memiliki 1 anak. Kakak ke-3 ku yaitu Nela umurnya 23 tahun. Kakak ke-4 yaitu Brandon umurnya 20.

Singkat saja, anak ke-5 dan ke-6 dari orang tua ku yaitu Dela dan Deli(18 tahun) mereka berdua kembar identik susah deh bedainnya kalo mau apa yang membedakan mereka yaitu kak Dela mancung kak Deli pesek. Anak ke-7 Bella (17 tahun), Anak ke-8 Beni (15 tahun), Anak ke-9 Lela (13 tahun) ini kakak yang paling dekat sama aku. Anak ke-11 Nadia (10 tahun), Anak ke-12 Bimo (8 tahun), Anak ke-13 Cila (5 tahun), anak ke-14 Maya (3 tahun), Anak ke-15 Gani (1 tahun) dan anak paling bungsu yaitu Carla baru 3 bulan.

            Hari ini aku disambut dengan matahari pagi, ku lihat jarum jam menunjukkan angka ke 09.00 berarti ini bukan pagi lagi. Memang sehabis solat subuh aku tidur lagi karena ngantuk, lagipula ini hari minggu jadi bisa dong malas-malasan, jangan tiru kelakuanku ya…

            “Naya beliin Ibu minyak goreng di warung Bu Salim sana” kata Ibu yang sepertinya ada didapur.

            “Iya Bu sebentar…” kataku

            “Kak Naya temenin Nadia mandi dong” kata Nadia.

            “Tapi ibu nyuruh kak Naya beliin minyak goreng, jadi kak Naya gak bisa neminin kamu, lagipula kan ada ibu didapur masa kamu gak berani mandi sendiri”

            “Iihh kak Naya jahat banget sih, kan Cuma minta temenin nanti Nadia temenin deh beli minyak gorengnya”

            “Yaudah deh tapi jangan lama-lama ya” kataku.

            Aku pun menunggu Nadia didepan pintu kamar mandi, anak itu memang penakut siang hari gini aja minta ditemenin mandi.

            “Aduh lama banget nih si Nadia, Nadiaaa… udah belum mandinya”

            “bentar lagi kak..”

            Karena terlalu kelamaan menunggunya aku mengendap-ngendap meninggalkannya biarkan saja dia ketakutan. Setelah itu aku mencari kak Lela untuk nemenin beli minyak goreng yang di suruh Ibu, dekat memang tapi aku memang gak suka sendiri kalo kemana-mana. Aku mencari keberadaan kak Lela tapi aku melihat ia sedang sibuk mengurus adek Cila dan Maya jadi aku urungkan niat ku untuk minta temenin kak Nela jadi aku panggil saja adek Bimo yang sedang santai menonton telivisi.

            “Bim, temenin kak Naya beli minyak goreng dong”

            “yaudah ayo kak”

            Aku mengambil uang untuk membeli minyak goreng didekat laci dan langsung tancap gas ke warung Bu Salim.

            “Bim, nanti gak usah beli apa-apa ya, soalnya uangnya nge-pas” kataku

            “iya kak”

Sesampai di warung Bu Salim aku langsung meyampaikan pesanan ibu, membayarnya dan langsung pergi pulang. Di pertengahaan jalan menuju rumah ada orang yang menjual anak ayam, ini mengingatkan ku pada peristiwa liburan tahun kemarin, kami sekeluarga pergi ke taman hiburan menaiki mobil pick up milik bapak yang biasanya digunakan untuk jualan buah-buahan, itu satu-satunya mobil yang kami milikki. Diperjalanan menuju taman hiburan hampir saja kami di marahi pak polisi karena kebanyakan muatan. Tapi karena kasihan kepada kami yang hanya bisa jalan-jalan bersama setahun sekali akhirnya kami dimaafkan.

Yang membuat kami sedih itu ketika kami pulang dari taman hiburan, ketika itu bapak terlihat sangat kelelahan dan sedikit mengantuk, jadi agak sulit melihat jelas sesuatu didepan. Kami khawatir melihat bapak seperti itu takutnya saja dapat terjadi kecelakaan apalagi muatan kami sangat banyak, kami menyuruh kak Rido tapi bapak tidak mau. Terpaksalah kami menuruti perintahnya.

“Awwwaaasss…. Pak ada ayam” teriak Ibu dari dalam mobil.

“HUUUWWWAAAA….”

Kami juga ikut teriak karena Bapak ngeremnya mendadak. Semua turun dan keluar dari mobil, kami melihat ada induk ayam dan anaknya berjumlah 5 ekor. Ada satu anak ayam yang tewas membuat kami khawatir.

Keributan dan penuduhan terjadi pada keluarga kami saat ini. Kasihan sekali bapak yang harus disalahkan, mata bapak yang tadinya tinggal 2 watt sekarang sudah jadi 16 watt bagus tuh buat lampu rumah.

“iya.. iya bapak tanggung jawab, kalian ini loh ribut banget sampe nyalahin bapak gini” kata Bapak.

“jadi kyak mana pak, kita harus nyari kemana toh pak dekat sini kan gak ada orang ternak ayam” tanya Ibu.

“yasudah kita biarin aja, anak ayam yang mati kita kubur dan kita tinggalin induk dan anak ayam yang masih sisa disini” jawab Bapak.

“iihh bapak jahat banget sih kasian ayamnya, kalo pemilik ayam itu marah gimana” kataku.

“Dari pada kita capek nyari pemiliknya, kamu mau nyariin Nay” kata Bapak.

Aku tidak berani lagi menjawab perkataan bapak betul juga sih dari pada kami capek nyari pemiliknya lagi pula kasihan adik-adikku sudah kelihatan sangat lelah, kami memutuskan mengubur anak ayam itu, adik-adikku ada juga yang menangis melihat mereka menangis aku juga ikut menangis. Kami meninggalkan induk ayam itu dan 4 anaknya. Selamat tinggal ayam…

Paginya sekitar jam 3 kami dikejutkan suara teriakan dari kamar Ibu dan Bapak, ternyata itu suara teriakan bapak, kami langsung menemui bapak dan kak Nela memberikan satu gelas air putih pada Bapak.

“Ada apa Bapak teriak tadi?” tanya Ibu.

“ini lohh Bu… bapak tadi mimpi buruk” jawab bapak.

Kami semua duduk dengan rapi disekitar kasur ibu dan bapak. “memang tadi bapak mimpi apa?” tanyaku.

“Bapak mimpi ayam yang bapak tabrak kemaren, dimimpi bapak ayam itu datang kerumah kita membawa teman-temannya, kebetulan bapak sendiri dirumah setelah itu ada bunyi ketokan pintu jadi bapak buka ternyata banyak sekali ayam-ayam, bapak diserbu sama mereka, dipatok sampai kulit bapak jadi jelek dan bapak terbangun” Jelas bapak.

Sungguh ini mimpi yang sangat aneh, mungkin jika orang mendengarnya ini mimpi yang biasa saja bahkan konyol tapi bagi bapakku ini mimpi yang buruk karena bapak kemaren sudah membunuh anak ayam tidak berdosa. Bapak sampai keringat dingin dan gak mau tidur lagi. Dengan ini kami semua berunding apa yang harus kami lakukan selanjutnya demi bapak tercinta.

Kami memutuskan pagi ini mencari induk ayam yang kami bunuh anaknya kemaren, bukan kami sih tapi bapak. Bagaimana kah kami mencarinya kalo anak hilang sih masih bisa dicari, kalo ayam sepertinya lebih susah malah ini tantangan bagi kami. Kata bapak kami harus menemukan induk ayam itu. Bapak takut kalo dihantui ayam itu lagi.

Yang turun kelapangan untuk mencari Ayam itu adalah bapak, aku, kak Rido, kak Nela, kak Brandon, kak Dela, kak Deli, kak Lela, kak Beni dan Adek Bimo. Dengan perlengkapan yang lengkap seperti kurungan ayam, baju rapi agar enak dipandang, makanan yang sudah disiapkan ibu dan mobil pick up bapak.

Kira-kira kami tertabrak dengan anak ayam itu dipertigaan jalan sepi menuju jalan kembang. Dengan kecepatan maksimal bapak mengendarai mobil pick up yang kurang lebih umurnya udah 10 tahun.

“Hati-hati pak kalo bapak nabrak anak ayam yang kedua kalinya bapak bisa mati ditangan ayam lohh” kataku.

“Jangan bilang gitu dong Nay, bapak takut nih!” kata Bapak.

“Pak… pak berhenti ada ayam tuh disitu” kata Adek Bimo sambil menunjuk ayam yang dimaksud.

“yang mana Bim kakak gak liat” kata Kak Lela.

“yang itu kak!”

“yaelah itu mah prit ciken, kamu lapar ya Bim” jawab kak Lela. Kami semua tertawa ngakak kecuali bapak, aku melihat kecutnya wajah bapak di cermin mobilnya dan langsung saja aku memberi kode kepada mereka untuk tidak tertawa lagi.

Diperjalanan hanya terdapat keheningan dan kejeliian mata untuk melihat ayam itu, kami sampai dipertigaan jalan kemaren kami menunggu sampai terlihat jejak ayam itu, tapi sampai 3 jam lamanya batang hidung ayam itu juga tidak ada padahal kami juga sudah mencari disekitar jalan ini. Kami pasrah, kami lapar, kami lelah tapi demi bapak kami terus mencari.

6 jam sudah kami mencari dan menunggu disekitar sini, kami juga berpencar untuk mencari ayam itu, benar dugaan ku kalau mencari Ayam tidak semudah mencari anak hilang, karena kami bisa disangka gila jika kami melaporkan kasus ini kepada polisi.

Kami benar-benar sangat lelah dan kelaparan sekarang coba saja kami tadi mampir membeli makan di freid chiken, makanan yang disiapkan ibu juga sudah habis. Bapak menyuruh kami pulang tapi kami tidak mau. Karena benar-benar lapar aku, kak Dela, kak Deli, kak Leli dan adek Bimo pergi mencari makanan dekat sini sedangkan yang lain menunggu sambil mencari ayam itu.

Berjalan sekitar 1.5 km dari jarak kami semula akhirnya kami menemukan tempat makan. Karena Bimo benar-benar kelaparan jadi dia makan disini dan kami meminta untuk membungkus makanan kami. Agak lama memang menunggu makanan kami jadi, Bimo memintaku untuk menemaninya melihat-lihat pemandangan disini sedangkan kakaku menunggu makanan jadi.

“kak Naya air terjunnya bagus banget ya”

“iya Bim, tapi disini kok gak banyak orang ya”

“iyalah kak ini kan dipelosok, tapi sayang ya tepat sebagus ini jarang ada orang yang datangi”

“iya betul kamu Bim”

 

Cippp… cippp… cipp…

 

“Kak Naya dengar sesuatu gak?”

“Dengar Bim, kayaknya itu suara AYAM” teriak kami bersama ketika mengucap kata ayam.

.           kami pergi menuju datangnya suara ayam, dan benar kami menemukan kadang ayam disekitar tempat makan ini. Ayam itu memiliki 4 anak ayam sepertinya persis sekali dengan ayam ditabrak bapak. Kami teriak dengan gembira dan bilang kepada kakak kami jika kami menemukan ayam yang dicari.

            Kak Dela menelpon bapak untuk pergi kesini, tidak sampai 10 menit bapak dan kakakku yang lain sudah sampai, tidak disangka dan diduga ibu, kakak dan adik yang dirumah juga menyusul kami.

            “Pak maaf ya saya sudah membunuh anak ayam bapak, saya benar-benar menyesal pak tolong maafkan saya, berapa pun yang bapak minta saya pasti bayar” mohon bapak kepada pemilik tempat makan ini.

            “tidak apa-apa pak ini hanya anak ayam, saya masih banyak ayam jadi bapak jangan khawatir” kata si pemilik tempat makan.

            “beneran pak saya di maafkan?”

            “iya benaran pak”

            “kalau begitu sekarang saya akan mentraktir semua orang yang makan disini!” kata bapak dengan semangat.

            Krik…krik…

            “kan cuma kita sekularga yang ada disini toh pak” kata ibu

            “nggak apa toh buk, anak kita aja udah banyak kalau ada orang selain kita bapak bisa tekor, duit bapak kan pas-pasan”

            “bapak juga yang salah, sok-sokan mau neraktir” kata ibu

            “yey jadi kita makan disini pak!” kataku dengan semangat.

            “iya Nay, ayo anak-anak ku kita habisi makan disini”

            “Yeyyyy” kami semua bersorak gembira.

Setelah kejadian itu bapak jadi gak suka makan ayam dan juga agak takut dengan ayam.

“kak Naya kak, kok kakak ngelamun sih” kata Bimo menyadarkanku dari lamunanku tadi.

“oohhh maafkan kakak Bim, memang kamu mau apa?” tanyaku.

“kak beliin Bimo anak ayam yang unyu itu dong”

“eh kamu itu, kan tadi kak Naya bilang gak boleh beli apa-apa dan lagi pula bapak kan takut sama ayam kalo kena marah bapak baru tau kamu”

Ancamku padanya tapi ia terlihat hampir menangis wajahnya saja sudah bewarna merah padam dan matanya berkaca-kaca. Terpaksa aku menuruti perkataanya dan membeli anak ayam berwarna merah muda, untung aku masih ada uang.

Ketika dirumah ia terlihat sangat senang membawa anak ayam merah muda itu, adik-adik ku yang lain juga ikut bermain dengan ayamnya Bimo, untung saja bapak belum pulang dari jualan buah-buhan.

“Assalamualaikum” bapak memberi salam.

Cippp… cippp…

“HUWA… anak ayam, ibu…ibu… anak ayam siapa nih bu, buang sana ayamnya bu”

“Wa’alaikumsalam pak, loh kenapa sih bapak teriak seperti itu”

“ini loh bu, kok ada ayam disini, siapa yang bawa ayam ini cepat buang”

“bapak jangan dibuang dong ayam ini punya Bimo” kata Bimo

“iya.. pak jangan dibuang kan lucu” kata adek maya

“jangan dibuang dong pak nanti Cila nangis nih” kata adek Cila.

Benar kata Cila dia menagis dengan kencang bapak jadi kasihan dan pasrah, bapak membolehkan kami merawat anak ayam itu. Tapi setelah 4 hari kami merawat ayam itu, ayam itu mati karena Bimo, Cila dan Maya memandikannya. Mereka bersedih dan menyesal, mereka menguburkannya di sebelah rumah. Ohh kami telah membunuh ayam ke-2 kalinya malangnya nasib ayam itu.

Komentar