Terima Kasih Ayah

       Kota kecil yang penuh dengan kedamaian membuat semua orang tak ingin lepas atau meninggalkan tempat ini. Aku dilahirkan disini, kota Quinzha namaku Daniel Barnett, nama ayahku John Quintavius dan ibuku Nelson Vinnson. Ada yang unik di kotaku, liat saja nama belakangku tidak mengambil nama belakang ayahku. Namaku diambil dari tanggal lahirku sendiri yaitu tanggal 01 - 12 – 1999, jika tanggal hari dan bulan ditambah 0+1+1+2 = 4, huruf ke-4 dalam abjad ialah D dan nama awalku Daniel dan jika tahun kelahiranku ditambah 1+9+9+9 = 28 huruf ke-28 dalam abjad memang tidak ada jadi di ulang dari awal menjadi B dan nama akhirku Barnett, ini dipercaya oleh rakyat kota kami dan itu membuat kota kami selalu beruntung.

            Tapi akhir-akhir ini banyak sekali peristiwa yang membuat penduduk kota kecil kami ketakutan. Peristiwa itu bisa terjadi 3 bahkan 4 kali dalam satu bulan, peristiwa itu adalah dalam satu keluarga orang tua mereka tewas sementara itu anak-anak mereka hilang tanpa jejak. Pemerintahan di kotaku dan polisi sudah mulai menangani itu tapi tetap saja tidak berhasil, mereka juga ingin memindahkan kami ke wilayah di kota lain tapi kota lain tidak mau menerima kami itu karena mereka takut terkena imbasnya dan ditambah lagi mereka juga tidak mau membantu kami memecahkan masalah ini.

            Walaupun ayahku hanya bekerja sebagai pelayan di restoran tapi ia penasaran dan ikut membantu pemerintah walaupun mereka tidak menanggapi pemikiran ayahku dan aku juga ikut membantu dengan meneliti dan mencatatnya di buku catatan bewarna biru tua dari ayahku ini.

            Mr. Zam Redley 5 hari lalu meninggal dan itu tepat 5 hari setelah ia bertambah usia, dan jika dilihat bulan lahirnya pada bulan Januari dan dalam bulan ini memang semua keluarga yang kepala keluarganya lahir di bulan Januari tewas dirumah mereka sendiri. Hanya itu saja yang bisa kusimpulkan sekarang, semoga aku menemukan petunjuk baru.

            Hari ini aku melihat ada sekempulan orang yang sepertinya penting dengan baju rapi bertamu di rumah tetanggaku, tidak aneh memang jika orang bertamu tapi aku sedikit curiga karena profesi Mr. Berkly Try hanya sebagai satpam di super market, mengapa keluarga Mr. Berkly bisa di temui oleh orang-orang yang terlihat penting itu, tapi aku segera menghilangkan pikiran aneh dari otakku.

***

            Ketika pagi hari sekitar jam delapan ibu menyuruhku membeli bahan makanan dan aku langsung pergi ke mini market terdekat menggunakan sepeda. Ketika aku mengeluarkan sepedaku dari garasi rumah, aku melihat Harley anak dari Mr. Berkly tepatnya tetangga sebelah rumah, cepat-cepat aku menghampirinya dan menyapanya.

            “Hey Harley mau kemana kau?” tanyaku sambil menepuk pundaknya.

            “Aku ingin pergi membeli bahan makanan ibuku, dan kau ingin pergi kemana Daniel?”

            “Sepertinya tujuan kita sama, ibuku juga menyuruhku membeli bahan makanan”  aku dan Harley mengendarai sepeda kami masing-masing dengan sedikit lambat agar kami bisa berbincang-bincang soal game atau lainnya tapi tiba-tiba aku teringat dengan hari itu.

            “Harley, kemarin apakah ada orang penting berpakaian rapi di rumahmu?”

            “Iya, bagaimana kau tahu?”

            “Kebetulan kemarin aku melihat mereka di depan rumahmu, boleh aku tahu apa yang mereka lakukan di rumahmu?”

            “Kata orang itu aku di undang di acara anak di jalan Gerham yang sekitar 35 meter dekat dengan pemakan, aku tidak tau benar acara apa itu, dan katanya semua anak di kota ini di undang,  nah apa kau akan datang Daniel?” wajah ku mulai terlihat bingung, sepertinya memang ada yang tidak beres dari sekumpulan orang itu mungkin ada hubungannya dengan terror yang ada di kota ini.

            Harley juga mengatakan ada seseorang yang meninggalkan Novel. Itu membuat diriku penasaran bisa saja ada beberapa informasi penting dari novel itu, untuk itu aku meminta ijin untung meminjamkannya sekitar 2 hari dan untungnya dia memperbolehkan.

            Tak terasa kami sudah sampai di mini market, aku membeli barang yang di pesan ibu begitu juga dengan Harley, setelah itu kami membayar dan pergi pulang, sesuai janji Harley ia meminjamkan Novel itu dan aku pergi pulang ke rumah ku yang bergaya arsitektur kuno ini.

            Aku membuka lembaran pertama Novel yang Cover depannya bergambar seseorang yang sedang berdiri membawa pisau di tengah pohon-pohon yang rimbun, aku mulai menikmati alur dari cerita ini tapi ketika aku membuka lembar halaman ke-168 ada secarik kertas yang jatuh ke lantai jadi aku mengambilnya. Aku belum melihat isi kertas itu, aku tau itu milik orang lain tapi aku tidak bisa melawan rasa penasaranku jadi aku melihat isi dari secarik kertas itu, disini bertuliskan “Jalan Gerham no. 68” jangan-jangan ini jalan yang sama, yang diberitahukan Harley ‘ucap batinku’.

            “Daniel cepat turun kita makan malam bersama” teriak ibuku dari ruang makan.

            “Iya bu sebentar” aku menaruh secarik kertas itu di lantai dan segera pergi menemui mereka untuk makan malam.

            Aku segera menghabiskan makanan yang disiapkan ibu di piringku, ada halaman dari secarik kertas itu yang belum kubaca. Setelah selesai menghabiskan makan malamku, aku sedikit berlari menuju kamarku karena semangat berlari sampai cangkir berisi kopi tumpah mengenai secarik kertas itu, aduh betapa cerobohnya aku. Cepat-cepat aku mengeringkan kertas itu di depan kipas angin.

Akhirnya kertas ini kering walaupun tulisan yang tertera tidak begitu jelas, aku membuka lembar berikutnya bertuliskan “Password: 4522” tapi aku yakin ada kelanjutan password itu sayangnya tulisannya tidak bisa dibaca gara-gara kopi yang kutumpahkan. Tapi aku harus segera mengetahuinya, apa ayah bisa membantuku? Mungkin saja bisa, esok hari aku harus memberi petunjuk ini kepada ayah, karena tidak ingin ceroboh lagi aku menaruh kertas itu di buku catatan milikku.

***

            Setelah mandi dan berpakain rapi aku segera menemui ayahku yang sedang menulis sesuatu, hari ini ia memang libur dan ketika libur ia menyibukkan harinya dengan membaca atau menulis.

            “Ayah aku menemukan sesuatu yang sangat penting” kataku dengan semangatnya.

            “oh Daniel, kau sangat semangat sekali memang kau menemukan apa anakku?” tanya Ayahku sambil mengelus kepalaku dan sambil tersenyum.
            Aku menceritakan kejadian awal ketika aku menanyai Harley tentang sekumpulan orang itu sampai akhirnya aku menemui kertas ini walaupun kertasnya tertumpah kopi.

            “Kerja bagus nak, mungkin ini sudah cukup untuk memecahkan masalah kota kita ini”

            “ayo ayah kita melapor kepada Pemerintah Kota atau polisi” ajakku, tapi wajah ayah terlihat sangat pasrah.

            “sepertinya ayah tidak bisa melapornya, ayah hanya rakyat kecil yang tidak dianggap oleh mereka seberapa penting pendapat ayah, mereka tetap saja tidak menghargainya dan sekarang ayah hanya bisa pasrah” ayah tersenyum yang sepertinya agak sedikit terpaksa, memang rakyat seperti kami tidak dianggap padahalkan semua orang berhak mengeluarkan suaranya masing-masing.

            Aku terus memaksannya agar dapat setuju dengan pendapat ku. dan ia akhirnya setuju. Aku memberi tahu kalau tetangga sebelah kami Mr. Berkly 4 hari kemarin ia ulang tahun dan jika kita tidak menyelamatkannya bisa saja dia besok akan tewas. Ayah menyuruh aku dan ibu bersiap-siap pergi menangkap pelaku kejahatan ini. Kami seperti pahlawan super yang ingin menangkap musuhnya tapi bagiku keluargaku adalah hal yang terbaik.

            Kami bertiga sudah siap dan perlengkapan sudah lengkap jadi kami bergegas pergi ke sana dengan mengendarai mobil tua milik ayah. Sekitar 20 menit kami tiba di gedung bewarna putih yang lumayan besar ada spanduk bertuliskan “Peringatan hari Anak Sedunia” tapi bukannya hari anak itu tanggal 20 November sedangkan sekarang masih tanggal 5 Februari tapi jika orang yang tidak tahu bisa saja ia mempercayai spanduk ini.

            Aku mencoba membuka pintu depan gedung ini, tapi sayang sekali pintunya terkunci dan aku iseng mengambil peniti untuk membukanya, sedikit susah mungkin tapi akhirnya pintu ini terbuka.
            Ketika memasuki ruangan gedungan ini banyak sekali bangku-bangku, papan tulis dan alat pengeras suara ini persis seperti akan diadakannya sesuatu acara, aku mengecek apakah ada CCTV di sekitar sini, syukurlah tidak ada CCTV yang terpasang. Ayah menyuruhku mengecek di sekitar bangku, ayahku di sekitar alat pengeras suara, dan ibu di sekitar papan tulis.

            Di sini banyak sekali bangku-bangkunya aku melihat bangku pertama ada tulisan nama yaitu Abai yang sepertinya nama anak di kotaku ini. Aku yakin ada namaku juga, aku mencarinya dan di nomor 47 ada namaku. Harley di undang di acara ini sedangkan aku tidak tapi mengapa ada namaku juga, sepertinya memang target penjahat itu selanjutnya ia lah keluarga Harley. Aku segera menuju bangku bertuliskan nama Harley, aku melihat namanya di nomor 84 tidak ada yang aneh dibangkunya tapi coba saja aku mendudukinya. Tapi aku mengurungkan niatku bisa saja terjadi sesuatu setelah aku menduduki kursi ini, aku membuka kain yang menutupi kursi ini dan benar saja ada tombol merah di kursi ini.

            “Ayah, ibu aku menemukan sesuatu” teriakku dan mereka pun pergi menghampiriku.

            “Ada tombol merah di kursi Harley, apa kau belum menekannya Daniel?” tanya ibu.
            “belum tapi hampir sih” jawabku dengan sedikit cengiran.

            “kita tidak boleh bermain-main seperti ini Daniel, untung saja kau selamat dari bahaya” aku langsung terdiam mendengar perkataan ayahku memang seharusnya aku tidak boleh bermain-main saat ini bisa saja aku terkena bahaya.

            “jadi kita harus bagaimana yah” tanya ibu.
            Ayah memeriksa bawah kursi ini ketika ingin menggesernya tidak bisa di pindah, sepertinya harus menekan tombol merah itu baru kami tahu apa yang terjadi. Ayah seperti mengeisyaratkan kami untuk menekan tombol ini.

            “1…2…3…” kata kami bersamaan dengan menekan tombol itu.
            Ternyata kursi itu jatuh ke bawah, ada lubang berbentuk persegi yang cukup untuk di masuki, aku yakin nanti itu bisa saja membawa Harley ke tempat penjahat itu. Ayah memberi isyarat kepada kita untuk memasuki lubang itu. Lubang itu seperti lorong yang akan menuju sesuatu tempat. Kami berjalan dengan hati-hati dan tanpa mengeluarkan suara agar kami tidak ketahuan.

            Mungkin sekitar 15 menit kami berjalan akhirnya kami menemukan ujung lorong ini, ada gedung lagi di bawah sini dan ada tulisan di atasnya dan sangat besar tulisan itu ialah DEVIAN. Tidak ada pintu yang menggunakan kunci dan lagi pintunya terbuat dari besi yang tebal dan sangat kuat, kami terlihat bingung sekali apa yang harus kami lakukan selanjutnya. Kami mencari benda yang dapat membuka pintu ini, aku melihat ada benda yang menutupi alat untuk memasukkan sandi yang bisa membuka pintu ini. Aku memanggil ayah dan ibu, ayah menekan angka yang kuberi kemaren tapi katanya tidak berhasil. “kesempatan ada sisa 2 kali lagi” ada suara yang keluar dari alat itu.

            Kami terus berpikir jika dilihat angka kemarin 4522, 4 angka dalam abjad itu D, 5 angka dalam abjad itu E, ada angka 2 dua kali mungkin saja maksudnya angka 22 yang dalam abjad itu V, itu sama saja tulisan yang ada di atas gedung ini tapi belum selesai. Aku menjelaskan pemikiran ku ini kepada ayah dan ibu tampaknya mereka setuju dan kami mendapat angka 45229114 dari nama DEVIAN tapi kata ayah ini terlalu kepanjangan sedangkan alat itu hanya dapat menampung 6 angka. Aku berpikir lagi jika menambahkan 9+1= 10 tapi itu terdapat angka baru lagi. Dan aku berpikir langsung menambahkan 1+1+4= 6 jadi pas ada 6 angka yaitu 452296. Ayah mencoba sekali lagi memasukkan kata sandi yang baru kita pecahkan dan akhirnya pintu terbuka.

            Setelah itu kami masuk lagi kedalam gedung ini, tapi ketika ada orang yang berbicara dan seperti suara anak-anak menangis,  kami menghentikan langkah kami. Ayah dan ibu mengambil senjata mereka di dalam tasnya sedangkan aku tidak boleh karena kata ibu ini sangat berbahaya. Dengan gerak mata ayah, aku tau jika ayah menyuruh mengikutinya dari belakang dan aku hanya dapat mengiyakan saja.

            “ANGKAT TANGAN KALIAN” teriak ayah dengan lantang sambil mengangkat pistolnya, orang-orang yang di situ langsung mengangkat tangan mereka. Tapi mereka yakin kalau ayahku dan kami bukan polisi atau apa pun yang menyangkut keamanan dunia.

            “wah..wah… ada orang yang ingin menjadi pahlawan disini” tawa seseorang berbadan besar dan anak buahnya juga ikut tertawa.

            “kalau kalian ingin selamat pergi dari sini, jadwal kematian kalian kan bukan sekarang” teriaknya sambil tertawa.

            “kami tidak akan pergi dari sini sampai kau melepaskan anak-anak yang kau tahan ini dan kau harus menghentikan pembunuhan yang sedang kau lakukan” kata ayah masih mengangkat pistolnya kearah orang berbadan besar itu.

            Ibu mengisyaratkan ku menelpon polisi dan aku cepat-cepat memencet nomor polisi di handphone ku, tapi akhirnya aku ketahuan.

            “Born cepat tangkap anak itu dia menelpon polisi” teriak orang tadi tapi aku cepat berlari.
            Tapi aku kalah cepat dengan mereka, aku di tangkap dan di kurung tahanan mereka, aku menyesal dengan perbuatanku mengapa aku sampai tertangkap. Penjahat itu ingin kabur tapi ayah dan ibu ingin melawan mereka, aku kaget ketika banyak sekali orang yang menyerang ayah dan ibu tapi untung mereka bisa mengelak hantaman mereka.

“DOOOORRRR…….”
Suara apa itu, sepertinya itu suara tembakan, siapa yang tertembak. Kakiku seperti tidak bisa bergerak sekarang, karena mengetahui ayahku lah yang tertembak. Aku tidak dapat menahan tangisku mereka membunuh ayahku. Ibu memegang tubuh ayah yang sudah berlumuran darah itu, ibu tak sanggup menahan tangisnya begitu juga diriku.

Penjahat itu mau kabur dari sini tapi polisi juga sudah datang kemari, polisi menangkap mereka dan segera memenjarakan mereka. Ternyata itu rakyat dari kota sebelah, mereka iri dengan kota kami yang selalu mendapat keberuntungan dan lebih parahnya anak-anak itu mau di bawa pergi dari kota ini untuk diperdagangkan di kota bahkan negara lain.

Walaupun aku sangat sedih di tinggal ayahku pergi selamanya tapi aku tetap bersyukur aku, ibu dan anak-anak ini selamat dari maut. Pemerintah Kota dan rakyat disini berterima kasih kepada kami apalagi kepada jasa ayah. Semua warga di kota melayat ke pemakan ayah sambil berdoa kepada tuhan agar ia tenang disana selamanya. Pemerintah juga memperbaiki kota ini dan mereka juga mulai peduli dengan rakyat kecil, ini membuat kotaku bertambah aman dan damai.


Komentar