Pohon

   Kau tau bagaimana kehidupan ketika masa depan?. Mungkin banyak gedung-gedung tinggi menjulang, teknologi yang maju, dan fasilitas terpenuhi karena banyaknya tempat untuk fasilitas itu, banyak pohon juga ditebangi untuk kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan manusia. Akhirnya pada saat ini mereka kehabisan pohon karena perbuatan mereka sendiri. 

   Ini manusia hidup dimasa depan, tak ada pohon sama sekali. Awalnya orang-orang tak peduli dengan pohon yang mereka tebang, mereka masih mendapat oksigen yang cukup untuk mereka. Tapi apakah itu bertahan lama? Tidak. setelah beberapa tahun mengirup oksigen tanpa pohon mulai terasa bagaimana sakitnya. orang-orang yang mempunyai penyakit paru-paru pun susah bernapas adapun yang meninggal karena hal itu. orang-orang kaya diperkotaan masih bisa menghirup oksigen dengan tabung oksigen yang mereka bawa dipunggung mereka, sedangkan orang di desa mereka kehabisan udara untuk bernapas, mereka ingin membeli alat tabung oksigen itu tapi terlalu mahal bagi mereka. Hal hasil banyak manusia yang meninggal di pedesaan.

   Yusa, anak kecil berusia 5 tahun dari desa Munto. Ia dan keluarganya tinggal disana, tempatnya pun sama tak ada satu pohon pun disini. 98 warga yang masih bertahan didesa ini, awalnya lebih dari 300 warga didesa Munto. Dan disinilah penghasil pohon terbanyak, tapi mau bagaimana lagi pohon-pohon di sini ikut ditebangi juga, mereka hanya bisa pasrah akan hal itu.

   Suatu Hari Yusa pergi berkeliling didesanya, jalan didesanya menjadi hitam karena bakaran pohon bulan lalu, bukan karena dibakar oleh manusia tapi matahari yang membakarnya karena ozon sudah makin menipis jadilah radiasi matahari sangat kuat. Untung saja ini musim penghujan jadi hawanya tidak terlalu panas.

   Diperjalanan Yusa melihat benda yang bercahaya dekat rumah tidak ada penghuninya itu. Karena penasaran ia mendekatinya.

"Wahh apa itu" katanya dengan polos.

  Ia terus mendekatinya sampai jarak kurang lebih 10 cm dia berhenti karena cahanya semakin terang setelah itu cahanya mati.

"Wahh itu pohon"

  Pohonnya sangat cantik di pot kecil bewarna merah dengan daun yang hijau cerah dan bunganya yang merah cerah pula. Ia pun berpikir pohon apa ini, sepertinya ia pernah melihatnya.

"Oohhh ya ini pohon Akasia"  katanya dengan keras untung saja tidak ada sama sekali orang disini.

Ia bingung harus membawanya atau tidak, tapi ia memutuskan untuk membawanya. Dilihat disamping pohon itu ada plastik hitam, dia pun membungkusnya ke dalam plastik itu dan dibawanya pulang. Wajahnya penuh kegembiraan walaupun ia membawanya dengan susah karena lumayan berat.

"Ibu...ibu... liat apa yang aku bawa" kata Yusa setelah sampai di rumah

"Apa yang kamu bawa sayang" kata ibunya mengelus kepala anaknya dan melihat yang Yusa bawa.

"Ini bu.. pohon.. bu... pohon..." katanya dengan semangat.

"Oohh benarkah" kata ibunya.

"Iya bu.. masa ibu tidak percaya"

"Yusa.. kamu tau kita harus memberi pohon ini ke Pemerintah Kota" kata ibunya dengan lembut.

"Tidak.. bu, ini punya Yusa. Tidak ada yang boleh mengambilnya. Yusa sendiri yang akan merawatnya"

  Ibu Yusa hanya terdiam dan meninggalkan Yusa sendirian. Yusa pun pergi kebelakang rumahnya, membuat lubang yang pas dengan pohon Akasia itu. Di lepasnya pohon itu dari pot dan menguburkannya ditanah yang sudah dilubangi. Dengan kaki kecilnya ia berlari pergi ke kamar mandi mengambil air dengan gayung, kembali lagi kebelakang rumahnya dan menyiram pohon itu. wajahnya pun terukir bahagia.

  "Ayahh.. Yusa menemukan pohon lohh" kata Yusa yang melihat Ayahnya pulang dari kerja.

  "Ah masa" kata Ayah.

  "Iya yah"

  Ibu Yusa menghampiri Suaminya dan membisiki sesuatu.

  "Yusa kamu punya pohon kan.. bagaimana pohonya untuk Ayah, nanti Ayah yang jaga" kata Ayahnya dengan lembut.

"Eehhmm... gimana ya" kata Yusa sedang berpikir.

"Ayolah Yusa kalau sama Ayah pasti aman, hhmm gimana nanti Ayah kasi Yusa permen yang besar besok" bujuk ayahnya lagi.

"Okayy.. baiklah, tapi ayah janji ya.." kata Yusa dan ia mengeluarkan jari kelingking dan ayahnya juga dan menautkannya.

  Pagi harinya Yusa mengambil pohonnya itu dari lubang dan menaruh kembali di pot merah itu. Diberikannya ke Ayahnya yang mau berangkat kerja.

"Ayah janjikan bakal ngejaga pohon ini" katanya.

"Iya ayah janji"

"Dahhh Ayah" ia melambaikan tangannya kepada Ayahnya. Lama-kelamaan badan Ayahnya mulai tak terlihat, ia pun masuk  ke dalam kamar rumahnya dan melamun.

"Yusa kamu kenapa" kata ibunya yang melihat Yusa melamun

"Tidak apa bu..." katanya dengan lemas.

"Kamu pasti mengkhawatirkan pohon mu kan"

"Hhhmmm"

"Ayolah Yusa.. pohon itu pasti aman kamu tidak usah khawatir"

"Hhmm" itu saja yang keluar dari mulutnya

"Hhmm.. bagaimana kita ketempat perkerjaan Ayah, kita kan bisa melihat pohon itu" kata ibunya sontak Yusa tersenyum dan berteriak. 

"Benarkah bu"

"Iya... ayo cepat ganti baju"

  Yusa pun berganti baju, dan mereka pergi ke tempat pekerjaan ayahnya. Tempat pekerjaan Ayahnya tepat disamping Kantor Pemerintah Kota.

"Ayah.. ayah.. mana pohon Yusa" kata Yusa berlari menghampiri Ayahnya. Sontak Ayahnya kaget karena kedatangan.

"Hhhmm pohonmu ada digedung sebelah sayang... ayo Ayah antar"

  Sesampai di kantor Pemerintah Kota ayah Yusa minta izin kepada pemilik kantor ini untuk melihat pohon yang dibawanya sayangnya mereka tidak boleh melihatnnya.

"Pak...pak.. istri anda meninggal karena ia kehabisan oksigen" kata orang yang sepertinya karyawan disini kepada bapak tadi.

"Haaahhh benarkah.... pasti kamu berbohong... tidak mungkin istriku meninggal" kata bapak itu sambil marah-marah dan matanya mengeluarkan bulir air mata. Semua orang disitu juga mulai sedih. Yusa pun minta digendong pada ibunya, Yusa takut bagaimana selanjutnya akan terjadi. Banyak orang yang meninggal karena kehabisan oksigen, oksigen yang dihasilkan pohon itu lebih alami dan gratis, sedangkan buatan manusia itu tidak terlalu aman dan mahal sekali.

 3 jam menunggu akhirnya mereka dibolehkan untuk masuk. Pohon Akasia tu disimpan disebuah bola besar berwarna bening. Daun dari pohon itu terlihat layu bahkan hampir mengering. Yusa yang melihat itu mulai menangis.

"Kata Ayah pohon itu pasti Aman tapi kenapa jadi begini Ayah.." katanya sambil menagis.

 Yusa pun meminta turun dari gendongan ibunya, dan jalan menemui orang pemilik kantor ini.

"PAMAN.. KENAPA POHON YUSA JADI BEGITU" katanya sambil marah.

"Kamu anak kecil jangan banyak omong" kata Direktur itu dengan Marahnya. Cepat-cepat Ayahnya dan ibunya menghampiri Yusa.

"Yusa jangan kaya gitu.. Paman itu lagi berduka" kata ibunya membisiki Yusa.

"Iya.. ibu.. tapi aku ingin pohon ku itu kembali" kata Yusa yang masih mengeluarkan air mata

"Ayah cepat bicara sama orang itu" lanjut Yusa.

  Ayah Yusa pun bicara dengan bapak itu awalnya ia tidak di bolehkan dengan terpaksa Direktur Perusahaan itu membolehkannya. Yusa sangat senang dari peristiwa itu Yusa dan banyak orang lain membantunya untuk merawat pohon itu.

-15 tahun kemudian-

Sudah banyak pohon didesa Munto dikota pun banyak juga pohon. Pohon yang banyak adalah Pohon Akasua, pohon itu juga berfungsi untuk melindungi dari matahari karena rindang dan nyaman.


Ayo mulai sekarang kita jaga alam di lingkungan kita, jangan sampai pohon di dunia ini habis. GO GREEN

Komentar